Jantung Keberhasilan Sebuah Theater

Jika anda pernah menonton sebuah theater, anda akan takjub bagaimana para tokoh memainkan peran. Namun ketakjuban anda itu juga dihasilkan oleh orang-orang dibelakang layar. Termasuk dari penulis untuk theater tersebut. Naskah theater pendek maupun theater panjang menjadi penentu sebuah keberhasilan. Dan tak diragukan lagi, penulis naskah theater seolah menjadi jantung untuk keberhasilan pertunjukan.
Naskah yang ditulis oleh seorang penulis theater akan menjadi penentu. Dibawah penulis ada sutradara yang mengatur para pemain. Kemudian hasil akhir akan ditunjukan oleh para pemain untuk dinikmati para penonton. Kisah-kisah yang bagus datang dari penulis theater. Namun tokoh-tokoh yang pandai memerankan karakterlah yang akan menarik hati penonton.

Theater biasanya berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan. Terutama kehidupan para penonton yang datang. Jika theater dipertontonkan untuk para mahasiswa, maka cerita theater tidak akan jauh dari drama pendidikan. Jika theater dipertunjukan untuk para pejabat, maka kisah yang diangkat pun berisi hal-hal yang berkaitan dengan pemerintahan.

Bagi penulis theater, hal yang paling sulit adalah membuat monolog dan dialog semenarik mungkin. Setiap orang menyukai humor, maka penulis harus bisa membuat dialog yang bisa membuat orang tertawa. Beberapa orang tidak suka menangis, tapi mereka menyukai kisah yang menyentuh hati. Maka penulis pun harus bisa memasukan emosi ke dalam dialog maupun monolognya. Inilah mengapa penulis menjadi jantung dalam pertunjukan theater.

Teather

Jika penulis sudah mendapatkan ide dan cerita untuk sebuah theater, tugas mereka selanjutnya adalah menentukan karakter yang menarik. Karakter atau tokoh inilah yang nanti akan memainkan konflik dalam sebuah theater. Akan lebih bagus jika semua tokoh memiliki ciri khasnya masing-masing. Dengan ciri khas itu, biasanya penonton akan mengingat para pemainnya. Jika penonton mengingat mereka, tentu hal itu akan menguntungkan bagi para pemain theater tersebut.

Plot atau alur cerita harus dibuat menarik agar tidak membosankan. Mulai dari pengenalan, mengembangkan masalah dalam cerita, mengembangkan monolog dan dialog, mencapai klimaks, lalu membuat penyelesaian atau ending yang memuaskan. Disinilah seorang penulis harus benar-benar menggunakan ide dan imajinasinya. Selain harus membuat naskah yang bagus, penulis harus bisa memastikan pemain mampu memahami naskah dramanya. Percuma jika naskah itu bagus, tapi para pemain tidak begitu mengerti apa maksud dari penulisnya. Agar hasilnya sama persis dengan harapan penulis, maka sangat disarankan apabila penulis tetap mendampingi pemain.

Theater seperti kerjasama tim. Jika penulis berhasil membuat naskah yang bagus, maka para pemain harus mampu menciptakan imajinasi penulis. Hasil imajinasi penulis akan ditunjukan di depan umum, dan saat itulah para penonton tidak peduli dengan naskahnya. Alih-alih dengan naskahnya, penonton hanya akan peduli bagaimana para pemain bermain peran. Theater ibarat seperti permainan di slot online yang harus bisa memberikan kemenangan karena jika kalah menerus para pemain tidak tertarik dan akan mencoba permainan lainnya. Oleh karena itu penting bagi para aktor untuk memahami subteks dramanya, dibandingkan harus menghafal isi naskahnya. Semuanya tampak bergantung pada penulis sampai theater itu berakhir.

Disisi lain, sebagus apapun akting para aktor, penonton tidak akan tertarik apabila cerita dramanya begitu membosankan. Tak hanya itu, barangkali kisahnya juga tidak memiliki pesan moral. Kurangnya klimaks yang membuat penonton bersemangat. Ditambah lagi dengan plot yang datar. Disitulah kegagalan sebuah theater. Jika penulis tidak bisa mengembangkan cerita, selain akan menggagalkan theater, ia akan menggagalkan para pemain sekaligus kru yang lain. Sebaliknya, jika theater mencapai kesuksesan, maka penulis terbaik akan dipertimbangkan.

Read Also

Share via
Copy link
Powered by Social Snap